Marlinus Wabub Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan Minta Perlakuan Khusus dari Pemerintah Pusat

Penulis :

Lucky suryani

Jakarta – Traznews. Com Wakil Bupati Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, Marlinus, menyampaikan kritik tegas kepada pemerintah pusat terkait kebijakan pengalokasian anggaran pembangunan yang dinilainya belum berpihak pada daerah Papua.

 

Usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bertema “Sinergi Pelaksanaan Program dan Kegiatan Urusan Pemerintahan Umum di Daerah Guna Mendukung Pelaksanaan Program Prioritas Presiden dan Asta Cita”, Jumat (16/1/2026) Ballroom Hotel Pullman Central Park Jakarta. Marlinus menilai kebijakan efisiensi anggaran justru memperlebar ketimpangan pembangunan antara Papua dan daerah lain di luar Papua.

 

“Kita tahu bahwa kabupaten di luar Papua pembangunannya sudah jauh lebih maju dibandingkan kami di Papua. Seharusnya pemerintah mengambil kebijakan diberlakukan juga bagi daerah kami apalagi sebagai Provinsi Otonomi khusus. Sementara ini tidak,” tegasnya.

 

Marlinus sosok wakil bupati yang sangat sederhana ini menegaskan, Papua khususnya Kabupaten Boven Digoel memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Ia menyebut sektor pertambangan dan perkebunan sawit sebagai penyumbang signifikan APBN.

 

“Kami harus diistimewakan. Kami daerah Papua penghasil pendapatan negara yang cukup besar, terutama dari tambang dan perkebunan sawit,” ujarnya.

Bacaan menarik :  BRI BO Ciputat Hadiri Grand Opening HOM Fitness Center Pondok Ranji

 

Menurutnya, forum Rakornas menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah Papua untuk menyampaikan keluhan langsung kepada pemerintah pusat.

 

“Dengan adanya Rakornas Kesempatan ini sangat baik bagi kami untuk menyampaikan keluhan-keluhan kami ke pemerintah pusat,” katanya.

 

Ia kembali menekankan bahwa Papua merupakan daerah otonomi khusus yang semestinya mendapatkan perlakuan berbeda dalam kebijakan anggaran.

 

“Harapan kami, kami ingin diistimewakan. Karena kami daerah otonomi khusus dan penghasil APBD yang bisa dikatakan besar lewat hasil tambang, perkebunan sawit, dan lain-lain. Tapi pengalokasian anggaran untuk mempercepat pembangunan di Papua justru disamakan dengan kabupaten di luar Papua,” ungkapnya.

 

Marlinus menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kepincangan kebijakan.

 

“Di sini ada kepincangan. Daerah lain semakin maju, sementara kami semakin tertinggal dengan adanya efisiensi anggaran,” tambahnya.

 

Ia juga menyoroti bahwa pemerintah pusat kerap tidak mempertimbangkan tingkat kesulitan geografis dalam pembangunan di Papua. Menurutnya, akses ke sejumlah distrik sangat terbatas dan berisiko tinggi.

 

“Di Papua, untuk menjangkau satu distrik atau kecamatan, ada yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat. Ada juga yang harus lewat sungai menggunakan speed atau longboat, itu pun bisa memakan waktu satu sampai dua hari,” jelasnya.

Bacaan menarik :  Wakil Sekretaris Komisi Hukum Dan Hak Azasi Manusia DPP MUI Kaspudin Nor Lolos Seleksi Administrasi Calon Anggota KY

 

Bahkan, ia mengungkapkan masih ada wilayah yang hingga kini belum tersentuh pembangunan.

 

“Saya baru tahu satu minggu lalu bahwa di kabupaten saya, ada satu kecamatan yang sampai hari ini belum disentuh pembangunan, yakni Kecamatan AmbatKwi, Papua Selatan. Lewat sungai satu hari penuh baru sampai pelabuhan, lalu masuk ke pusat distrik memakan waktu satu sampai dua hari lewat jalan setapak, akar kayu, tebing, dan batu cadas,” bebernya.

 

Kondisi tersebut, lanjut Marlinus, sangat menyiksa para petugas lapangan.

 

“Petugas melakukan perjalanan sepanjang hari, kadang pulang kuku kaki berdarah, lecet, karena harus melewati batu cadas, tebing, dan akar-akar. Betapa sulitnya,” tuturnya.

 

Ia menilai Rakornas menjadi ruang strategis untuk membuka mata pemerintah pusat atas realitas di lapangan.

 

“Justru ini kesempatan yang baik buat kami. Tadi sudah saya sampaikan di dalam acara Rakornas,” katanya.

Bacaan menarik :  Jelang Lebaran, Bupati Lamtim Ela Siti Nuryamah Cek Harga Sembako di Pasar Sukadana

 

Dengan suara lirih, Marlinus kembali menegaskan bahwa Papua merupakan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang membutuhkan perhatian khusus.

 

“Kami butuh perhatian khusus, sangat-sangat membutuhkan perhatian pemerintah pusat. Kami ini masuk daerah 3T, Jadi lengkap sudah penderitaan,” ucapnya.

 

Ia mengaku sangat berharap bisa bertemu langsung dengan Presiden RI agar kondisi Papua benar-benar dipahami di tingkat tertinggi pemerintahan.

 

“Kami sangat ingin bertemu Presiden supaya Bapak Presiden tahu langsung. Tapi kesempatan bertemu itu agak susah. Jadi sekarang kami lewat kementerian, melalui Rakornas ini,” pungkasnya.

Bagikan postingan
Uitgebreide mogelijkheden rondom westace Casino voor spelers en beginners
0
Εξερεύνηση ιδεών διακόσμησης σπιτιού με https://leonsbett.gr και έμπνευση για κάθε γωνιά
0
Εξερεύνηση ιδεών διακόσμησης σπιτιού με https://leonsbett.gr και έμπνευση για κάθε γωνιά
0
Εξερεύνηση ιδεών διακόσμησης σπιτιού με https://leonsbett.gr και έμπνευση για κάθε γωνιά
0
Aconchego rural perto de https://guestaccess-nest.pt para momentos de descanso e descoberta na natureza
0
Zentrale Vorteile für Ihr Projekt durch https://clamare.de und innovative Webentwicklung verstehen
0
Respons Laporan Warga, Polda Metro Jaya Cegah Tawuran di Bassura, 20 Pemuda Diamankan
0
Polda Lampung Bongkar Peredaran Uang Palsu Rp980 Juta, Satu Tersangka Ditangkap di Bakauheni
0
TNI – Polri, Pemprov DKI Bersihkan Sampah Usai Aksi
0
Aksi di Jakarta Berjalan Damai, Polda Metro Jaya Apresiasi Masyarakat
0
Polisi Bersama Masyarakat, Polwan Sambut Peserta Aksi dengan Spanduk dan Dialog Humanis
0
Analyses rondom starshipshuffle.com bieden heldere inzichten voor optimale resultaten
0