LAMPUNG BARAT – Pelaksanaan pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Lampung Barat menuai kritik dari berbagai pihak. Pasalnya, bantuan makanan yang seharusnya dibagikan setiap hari kepada para siswa justru dirapel dan dibagikan sekaligus untuk tiga hari oleh SPPG 1 Sekincau.
Kondisi tersebut diketahui terjadi di SMK Bhakti Wiyata Pampangan dan dikeluhkan oleh pihak sekolah. Bahkan pihak sekolah menilai cara pembagian tersebut kurang efektif dan terkesan dilakukan untuk mencari cara yang lebih praktis dalam pendistribusian makanan kepada siswa, Kamis (12/03).
Salah seorang dewan guru yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pembagian makanan tersebut memang dilakukan dengan sistem rapel tiga hari sekali.
“Boleh dibuka pak, jumlah kantongnya ada 222 buah. Bisa dilihat sendiri. Untuk kantongnya nanti dikumpulkan kembali dan diserahkan kepada pihak SPPG,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Lampung Barat, Yogi Mandala Putra, turut menyoroti mekanisme pendistribusian MBG yang dilakukan oleh SPPG Sekincau 1.
Menurutnya, skema pembagian makanan yang dirapel selama tiga hari perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang diterima siswa.
Ia menjelaskan bahwa dalam skema selama bulan Ramadan atau masa libur puasa, makanan yang dibagikan seharusnya berupa makanan kering yang dapat bertahan sekitar 12 jam, seperti telur rebus, kurma, dan roti untuk berbuka puasa.
Namun menurutnya, telur rebus yang didistribusikan memiliki daya tahan terbatas sehingga dikhawatirkan tidak lagi dalam kondisi layak konsumsi jika disimpan terlalu lama.
“Menurut saya telur rebus hanya bisa bertahan sekitar 12 jam. Karena itu saya selaku anggota DPRD Lampung Barat dari Dapil 3 mendorong agar makanan kering tetap didistribusikan setiap hari, agar pemenuhan gizi anak-anak bisa terpenuhi secara optimal setiap harinya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa, baik dari segi kebersihan, kelayakan konsumsi, maupun kandungan gizinya
“Kami berharap kualitas makanan selalu dijaga dengan baik, baik dari sisi kebersihan, kelayakan, maupun kandungan gizinya. Hal ini penting agar tujuan program benar-benar tercapai dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.