Lampung Barat – Suasana haru menyelimuti Balai Pekon Giham Sukamaju, Kecamatan Sekincau, Minggu (12/7/2026), saat puluhan anak yatim menerima santunan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim Baitul Mukhlisin Al Islamiah (MTBM).
Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka, seolah menjadi pengobat atas luka kehidupan yang harus dijalani tanpa kasih sayang orang tua.
Sebanyak 60 anak yatim menerima santunan sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang dari masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Lampung Barat Hi. Parosil Mabsus yang diwakili Staf Ahli Bidang Umum H. Munandar, S.Sos., M.M., Camat Sekincau Heptanius Hidayat, S.P., Ka. UPT Puskesmas Sekincau Nurbaiti Jan., Ustaz Agus Rohman, Ketua MTBM Castini Saeran, serta diisi tausiyah oleh Ustaz Andri Huna Alhaeby dari Lampung Utara.
Dalam sambutan Bupati yang disampaikan H. Munandar, kegiatan tersebut diharapkan bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi ladang amal yang mampu melahirkan generasi yang semakin bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, dan memiliki hati yang penuh kasih sayang.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian kita terhadap anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan uluran tangan dari kita semua,” ujar Munandar membacakan sambutan Bupati.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Lampung Barat untuk terus menumbuhkan semangat berbagi, memperkuat rasa empati, dan menjaga budaya gotong royong yang menjadi jati diri masyarakat Sai Bumi Beguai Jejama.

“Setiap kebaikan yang kita berikan, sekecil apa pun, akan menjadi kebahagiaan bagi mereka dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Mari kita eratkan tali silaturahmi, saling peduli, saling menguatkan, dan bersama-sama mewujudkan Kabupaten Lampung Barat yang hebat, harmonis, sejahtera, serta penuh keberkahan,” lanjutnya.
Di balik senyum anak-anak yatim yang menerima santunan, tersimpan kisah perjuangan hidup yang tak mudah. Ada yang telah kehilangan ayah, ada pula yang harus tumbuh tanpa pelukan ibu. Namun, kehadiran para dermawan dan seluruh masyarakat pada hari itu menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri.
Air mata haru pun tak sedikit yang menetes. Bukan karena besarnya santunan yang diterima, melainkan karena mereka masih merasakan hangatnya perhatian, kasih sayang, dan pelukan kepedulian dari sesama.

Semoga kegiatan penuh berkah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa harta terbaik bukanlah yang disimpan, melainkan yang dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Karena sesungguhnya, senyum seorang anak yatim adalah doa yang mengalir, dan kebahagiaan yang kita berikan hari ini dapat menjadi jalan datangnya rahmat Allah SWT bagi kehidupan kita.