Lampung Barat- Minggu sore, 8 Maret 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, aku berangkat bersama Roni menuju Kota Liwa.
Tujuan kami sederhana namun penuh makna, yakni menghadiri acara buka puasa bersama yang diadakan oleh organisasi kami, Sudut Pandang Jurnalis Indonesia (SPJI).
Organisasi ini dihuni oleh berbagai awak media yang ada di wilayah Lampung Barat, serta beberapa tokoh pemuda yang memiliki semangat yang sama dalam membangun kebersamaan dan saling berbagi pandangan.
Perjalanan menuju Liwa terasa ringan.
Mungkin karena hati ini sudah dipenuhi rasa bahagia, bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan.

Sekitar pukul 17.30 WIB kami tiba di sekretariat SPJI yang beralamat di Gang Garpu, Kelurahan Way Mengaku
Begitu sampai, kehadiran kami langsung disambut dengan penuh kehangatan oleh rekan-rekan yang sudah lebih dulu hadir.
Ada Lilia Paramitha, seorang reporter yang tatapan mata tajam namun penuh ketegasan. Kemudian Hari Gunawan, SE., yang dikenal pendiam namun memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ada juga Bang Taklim yang murah senyum serta Kanda Delpan J. Geasil S.E., yang ramah dan selalu mampu mencairkan suasana dengan canda tawanya.
Masih banyak lagi rekan-rekan lain yang hadir sore itu. Semuanya berkumpul dalam satu tujuan: “Merajut kebersamaan di bulan suci Ramadan”.
.
Dalam hati, aku merasa sangat bahagia. Sebuah rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Alhamdulillah Ya Allah… kami begitu bahagia bisa berkumpul bersama dalam suasana Ramadan 1447 Hijriah yang penuh berkah,” ucapku dalam hati.
Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada hal yang berlebihan. Hanya tawa, cerita, dan kebersamaan yang mengalir dengan begitu hangat.
Di situlah aku menyadari satu hal sederhana namun sangat berarti.
“Kesederhanaan yang dipenuhi kebersamaan, sering kali justru menghadirkan kebahagiaan yang paling tulus”.

Lilia Paramitha dikenal sebagai sosok dengan tatapan mata yang tajam. Ia bukan tipe yang banyak berbicara, namun setiap kata yang keluar darinya selalu terdengar tegas dan penuh keyakinan. Ketika ia menyampaikan pendapat, kalimatnya singkat, jelas, dan memiliki kekuatan yang membuat orang lain memperhatikan dengan serius.

Sementara itu, Hari Gunawan adalah pria berbadan gempal yang dikenal cukup pendiam. Ia lebih sering memilih mengamati daripada banyak berbicara. Namun di balik sikap tenangnya, tersimpan kecerdasan yang luar biasa. Banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang jenius, mampu memikirkan solusi yang kadang tak terpikirkan oleh orang lain.

Berbeda lagi dengan Delpan Geasil. Ia adalah sosok yang ramah dan penuh ceria. Kehadirannya sering kali membuat suasana ruangan menjadi lebih hidup. Canda tawa yang ia hadirkan mampu mencairkan suasana dan membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Namun di balik sifat santainya, ia juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan cukup disegani.
“Saya sering ketemu beliau, namun baru kali ini bisa ngobrol langsung, asyik, enak, dan penuh wawasan” ujar Roni.

Kemudian ada Abang Taklim, pria berbadan tinggi tegap dengan tubuh kekar yang memancarkan wibawa. Meski penampilannya terlihat kuat, ia dikenal sebagai pribadi yang murah senyum.
Ia juga bukan tipe yang banyak bicara, tetapi setiap kata yang ia ucapkan selalu terasa menenangkan dan menyejukkan hati orang yang mendengarnya.
Kita bisa saja tidak selalu sepakat dalam segala hal, akan tetapi kami tetap saling menghargai dan menjaga hubungan silaturahmi yang baik.
Kebersamaan tidak selalu berarti harus sama dalam segala hal. Justru kebersamaan yang sejati adalah ketika kita mampu berjalan berdampingan meskipun memiliki pandangan yang berbeda.