Jakarta, Traznews. Com Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menghadiri acara sosialisasi Kredit Program Perumahan yang diselenggarakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bersama sejumlah bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Acara ini juga didukung oleh Realestat Indonesia (REI) dan berlangsung di Ballroom 1, Sheraton Grand Jakarta.
Turut hadir dalam acara ini Ketua Umum REI, Joko Suranto, Sekretaris Jenderal DPP REI, Raymond Arfandy, serta para pelaku usaha dan undangan dari berbagai daerah.

Salah satu tokoh yang memberikan apresiasi atas acara ini adalah Eddy Tjahwinoto , Bendahara DPD REI Jawa Timur. Ia menyampaikan bahwa program ini sangat penting, terutama bagi masyarakat di wilayah Jawa Timur yang selama ini menghadapi kendala dalam mengakses perumahan.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang disampaikan oleh Bapak Menteri dan Ketua Umum REI. Ini menunjukkan komitmen nyata dari pemerintah, khususnya dalam mendukung target pembangunan 3 juta rumah oleh pemerintahan Presiden Prabowo,” ujar Eddy Tjawinoto.
Menurutnya, banyak masyarakat di Jawa Timur yang kesulitan mendapatkan akses pembiayaan rumah karena masalah kelayakan kredit di perbankan. Salah satu penyebabnya adalah riwayat kredit mereka yang tidak sempurna akibat keterlibatan dalam pinjaman online (pinjol) atau pinjaman informal lainnya.
“Sistem skor kredit (slik) mereka menjadi buruk karena pinjaman-pinjaman tersebut, sehingga langsung ditolak oleh perbankan meskipun secara prinsip bank mengatakan akan menilai kasus per kasus,” jelasnya.
Namun, dalam acara tersebut, Eddy Tjawinoto menyambut baik adanya wacana relaksasi syarat kredit perumahan yang disebutkan oleh Kementerian. Meski demikian, ia menekankan bahwa relaksasi tersebut masih belum dijelaskan secara konkret dan masih sebatas rencana kebijakan.
“Tadi sudah disebutkan akan ada relaksasi, tapi belum dijelaskan bentuknya seperti apa. Banyak peserta juga bertanya tentang hal ini dalam sesi tanya jawab,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa di Jawa Timur, REI memiliki sekitar 600 anggota yang aktif mengembangkan proyek perumahan. Jika masing-masing anggota mengelola satu proyek dengan rata-rata 50 unit, maka potensi penyediaan rumah bisa mencapai puluhan ribu unit.
“Kalau dari 600 anggota, sekitar 400 di antaranya aktif mengembangkan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Dengan estimasi 50 unit per proyek, artinya ada potensi 20.000 rumah bisa disediakan,” kata Eddy Tjawinoto
Di akhir pernyataannya, Eddy Tjawinoto berharap agar perbankan benar-benar mendukung program ini dengan tidak serta-merta menolak calon pembeli rumah hanya karena skor kredit yang tidak sempurna.
“Kami berharap sosialisasi seperti ini bisa terus dilakukan, dan bank-bank juga lebih bijak dalam menilai kelayakan nasabah, bukan hanya berdasarkan data, tapi juga konteks sosial dan ekonomi calon pembeli,” pungkasnya.