Jakarta, Traznews. Com – 12 Mei 2025— Ikatan Keluarga Sumbawa (IKASUM) Jakarta Raya dan Jabodetabek menggelar acara Halal Bihalal 1446 H pada Senin, 12 Mei 2025, bertempat di Auditorium Kantor Kemenpora, Jakarta. Mengangkat tema “Sasapo Ate Sasopo Karante Untuk Sumbawa Maju” (Satukan hati dan ucapan untuk Sumbawa Maju), acara berlangsung meriah dengan penuh semangat kekeluargaan.
Bupati Sumbawa , Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., turut hadir dan menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya acara ini.
“Halal bihalal keluarga besar Sumbawa ini adalah yang pertama kali saya hadiri setelah dilantik menjadi Bupati Sumbawa Alhamdulillah, dengan adanya acara ini, kita bisa menjalin hubungan silaturahmi, apalagi tadi ada Pak Wamen Fahri Hamzah yang hadir. Ini menjadi momen penting untuk membangun sinergi antara tokoh-tokoh nasional asal Sumbawa guna membangun Sumbawa yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Ketua IKASUM Jaya, Dr. Lukman Malanuang, dalam sambutannya menjelaskan filosofi dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sumbawa yang dikenal dengan istilah “Krik Selamat”.

Pandangan hidup masyarakat Sumbawa sarat nilai-nilai yang disebut Krik Selamat, yaitu limpahan anugerah dan keselamatan dari Allah SWT. Nilai-nilai ini merupakan warisan budaya yang secara turun-temurun dijaga oleh masyarakat lokal Sumbawa,” jelasnya.
Ia memaparkan empat pilar utama pandangan hidup Krik Selamat, yaitu:
1. To’ dan Ila’– mencerminkan optimisme dan rasa malu yang menjadi penuntun moral,
2. “Bau marua dengan” dan “bau batempu ke dengan” – mencerminkan semangat egalitarianisme dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan,
3. “Balong ke bakalako”– menyimbolkan manusia sebagai khalifah yang harus bermanfaat,
4.“Kameri Kamore”mencerminkan kegembiraan dalam hidup serta saling memberi kenyamanan antar sesama.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa masyarakat Sumbawa memiliki karakter egaliter dan demokratis yang kuat. Nilai To’ diri (mengetahui posisi diri) dan Ila’ diri (menjaga kehormatan diri) menjadi dasar penerimaan terhadap perbedaan, tanpa kehilangan harga diri.
“Orang Sumbawa tidak dapat direndahkan dan diperlakukan sesuka hati oleh siapa pun, meskipun secara lahiriah mereka tampak hormat dan merendah. Ini tergambar dalam syair: “Tutu’ si lenas mu gita / Mara ai dalam dulang / Rosa dadi umak rea’, yang berarti ‘Lahirnya tak beriak seperti air dalam dulang, namun sesekali bisa menjulang seperti ombak mendebur pantai,’” tambahnya.
Dr. Lukman juga menekankan bahwa seluruh bentuk kerja sama, kemitraan, dan investasi yang melibatkan masyarakat Sumbawa akan berjalan sehat dan berkelanjutan jika nilai-nilai luhur tersebut turut dipertukarkan dalam interaksi sosial yang saling menguntungkan.
“Semoga Halal Bihalal 1446 H ini dapat berkontribusi positif bagi pembangunan Tau dan Tana Samawa,” pungkasnya.
Acara ini turut dihadiri oleh berbagai paguyuban masyarakat Sumbawa yang berada di Jakarta dan sekitarnya, seperti Himpunan Warga Sumbawa Barat (HWSB), KODESA (Keluarga Ode Saling Asih), Masyarakat Perantau Sumbawa (MARAS), Forum Pengusaha Asal Sumbawa (FPAS), Kerukunan Keluarga Samawa, Tompok Tau Samawa (TTS), FOKMAS NEW (Empang), KAUKUS DIASPORA, SEPAT NYINGANG, INTAN BULAENG, dan TOKAL BERAPE. Selain itu, undangan juga disampaikan kepada perwakilan IKASUM dari Bandung, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Mataram, dan Makassar, serta dihadiri oleh ratusan diaspora Tau Samawa.