Jakarta, Traznews. Com Sektor logistik Indonesia dinilai berada pada momentum krusial untuk melakukan transformasi besar-besaran guna mendukung percepatan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas 2025. Efisiensi dan digitalisasi menjadi faktor utama agar biaya logistik nasional semakin kompetitif di tingkat global.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Akbar DJohan mengimbau masyarakat, khususnya organisasi kemasyarakatan yang hadir, untuk menggaungkan pola pikir modern.
Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan, menegaskan bahwa transformasi logistik tidak semata-mata soal pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut keselarasan sistem dan kebijakan yang didukung oleh digitalisasi, keberlanjutan (sustainability), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
“Transformasi logistik bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga bagaimana sistem dan kebijakan mampu berjalan seiring, dengan dukungan digitalisasi, sustainability, dan peningkatan kapasitas SDM,” ujar Akbar.
Ia juga menyinggung kondisi pertumbuhan ekonomi nasional yang dipengaruhi dinamika global dan domestik.
“Pertumbuhan PDB kita di kuartal ketiga yang sebelumnya 5,06 persen turun menjadi 5,04 persen, tapi ini lumrah karena kondisi global dan situasi-situasi dalam negeri,” kata Akbar saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional dan HUT ke-1 Garuda Asta Cita Nusantara (GAN), Sabtu (12/12/2025), di Gedung DPD RI, Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta.
Akbar menjelaskan, pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa dengan capaian 5,17 persen atau sekitar 57 persen dari nasional. Namun, pemerataan ekonomi mulai terlihat di wilayah lain.
“Pertumbuhan di beberapa daerah dan pulau-pulau lain ini sudah menjadi pemerataan ekonomi yang diharapkan Bapak Presiden. Di provinsi-provinsi tertentu menjadi trigger seperti tambang, mining, dan sawit di Sulawesi, pertumbuhan ekonominya sudah tidak jelek, yakni 5,80 persen atau sekitar 7 persen nasional. Maluku masih menjadi atensi dengan 2,60 persen, dan Kalimantan sebagai pusat mining berada di bawah 5 persen atau sekitar 4,70 persen,” paparnya.
Menurut Akbar, dalam distribusi ekonomi tersebut, posisi dan fungsi logistik dalam rantai pasok (supply chain) sangat krusial.
“Dari semua distribusi ekonomi ini, posisi atau fungsi logistik supply chain sangat kredibel. Bagaimana mengatur atau merencanakan proses distribusi untuk kelancaran arus barang menjadi titik krusial. Prinsip-prinsip logistik nasional itu meliputi tepat tempat, tepat barang yang dikirim, tepat harga, tepat penerima, dan tepat pembayaran,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya organisasi kemasyarakatan yang hadir, untuk menggaungkan pola pikir modern.
“Saya menghimbau kepada masyarakat yang hadir sebagai ormas yang modern agar menggaungkan mindset yang modern untuk semua pengurus dan anggotanya di mana pun berada,” katanya.
Pada sesi lain, Ketua Panitia sekaligus Koordinator GAN, Ali Husni, membuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 GAN. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meneguhkan kembali jati diri organisasi.
“Dalam rangka meneguhkan jati diri organisasi dan memahami kembali tujuan pendirian, visi, misi, serta karakter organisasi. Kegiatan ini juga menjadi sarana konsolidasi internal untuk memperkuat kualitas organisasi, baik secara internal maupun eksternal, sehingga semakin dikenal luas dan mampu bersinergi dengan pemerintah, swasta, dan berbagai komponen masyarakat lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Garuda Asta Cita Nusantara, Dr. Muhammad Burhanudin, menegaskan bahwa peringatan satu tahun GAN menjadi momentum untuk menyatukan seluruh potensi bangsa.
“Peringatan satu tahun GAN ini bukan sekadar perayaan semata, tapi bagaimana menjadi titik balik menyatukan semua potensi yang ada untuk memajukan Indonesia,” pungkasnya.