Horor Fantasi Di Monster Pabrik Rambut

Penulis :

Lucky suryani

Jakarta,  Traznews. Com 7 Juni 2026 — Di tengah dominasi efek visual digital dalam film modern, sutradara

Edwin justru mengambil jalan berbeda untuk film terbarunya, Monster Pabrik Rambut.

Hampir 90 persen adegan fantasi dan horor dalam film ini dibangun menggunakan practical

effects, meminimalisasi penggunaan CGI, dan mengandalkan teknik produksi yang

mengingatkan pada film-film fantasi era 1980-an.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Monster Pabrik Rambut terasa

berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia saat ini. Film produksi Palari Films yang

sedang tayang di bioskop ini menghadirkan dunia yang absurd, ajaib, sekaligus

mengganggu, dengan pengalaman visual yang dibangun langsung di depan kamera.

Bacaan menarik :  Pimpred Media ActualNews.Id Meminta Pada Pemprov DKI Jakarta Memberikan Pelayanan Ektra Pada Korban Kebakaran Kapuk Muara Jakarta Utara

“Hampir 90% practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami

juga banyak menggunakan teknik sling. Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di

dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada

penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik,” terang qEdwin.

Mulai dari monster raksasa, rambut yang bergerak sendiri, hingga berbagai elemen fantasi

dalam film, sebagian besar diciptakan secara fisik selama proses produksi. Pendekatan ini

memberi tekstur dan kehadiran visual yang lebih nyata dibandingkan efek digital

sepenuhnya.

Menciptakan Nuansa Retro Lewat Teknologi Film Analog

Eksperimen visual film ini tidak berhenti pada practical effects. Untuk memperkuat nuansa

Bacaan menarik :  Pulau Rempang Dalam Cengkraman Oligarki Dan Giringan Politik 2024

retro yang menjadi bagian penting dunia Monster Pabrik Rambut, Palari Films juga

menggunakan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD).

Melalui proses ini, gambar yang awalnya direkam secara digital dicetak ke pita seluloid,

kemudian dipindai kembali ke format digital. Teknik tersebut menghasilkan tekstur grain,

warna, dan karakter visual yang mengingatkan pada film-film klasik, sekaligus memberikan

kesan organik yang sulit ditiru secara digital.

Dari Komik Petruk Gareng hingga Imajinasi Horor Fantasi

Bagikan postingan
Polri dan KPAI Perkuat Kerja Sama Lindungi Anak dari TPPO dan Kekerasan
0
Sabtu Bahagia Bersama Ojol, Polda Metro Jaya Gelar Bakti Kesehatan “Ojol Sehat, Pelayanan Hebat
0
Para Mantan Dankor Brimob Temui Kapolri, Perkuat Dukungan dan Soliditas Polri
0
Harapan Itu Kembali! Rizky dan Septian Kembali ke Bangku Sekolah, Pemerintah Hadir Membuka Jalan Masa Depan”
0
Rapat Koordinasi Percepatan Perizinan Berusaha di Kawasan Industri Digelar di Kementerian Perindustrian
0
Polda Banten Gelar Sertijab Dansatbrimob, Kombes Pol Hadi Saepul Rahman Resmi Menjabat
0
Kapolda Metro Jaya Pimpin Sertijab Irwasda, Karoops, dan Dirintelkam
0
Pesta Rakyat Nonton Happy Asmara, Pelaku UMKM Lampung Timur Jadi Berkah
0
Hamim Center Hadir di Konsolidasi Jilid Pertama Relawan Prabowo, Serahkan Dukungan ke Kertanegara dan Desak Bongkar Penyadapan
0
Polsek Sekincau dan Masyarakat Gelar Jum’at Bersih
0
Meriah! SPJI dan SPPG Nusantara Tri Mekar Ajak Pelajar BNS Kenal Dunia Jurnalistik Lewat Lomba Kreatif MBG
0
Laskar Merah Putih dan ARSIP Tegaskan Dukungan kepada Presiden Prabowo, Bachtyar Tedjanegara : Ajak Kader Solid Kawal Pemerintahan
0