OTOMOTIF – Tailgating atau mengikuti mobil di depan dalam jarak dekat, sesungguhnya kebiasaan buruk yang tanpa sadar sering dilakukan banyak pengendara. Perilaku ini acapkali ditemui di lalu lintas Indonesia.

Pengetahuan berlalu lintas sangat rendah, ditambah tidak adanya kesantunan dan kesabaran dalam mengemudi, menghasilkan sikap tak mau mengalah saat berkendara. Hasil masifnya, kemacetan!

Banyak pengguna jalan raya yang hanya bisa menyalahkan pemerintah karena tidak bisa mengurai kemacetan. Padahal, cara berkendaranya sendirilah yang menjadi penyebab kemacetan. Sungguh miris.

Perilaku tailgating ini sangat banyak ditemui di mana saja. Biasanya tipikal orang yang tidak sabaran, maunya ingin selalu menyusul mobil di depan dan mengebut di jalanan umum, walau dalam kondisi ramai sekalipun.

Penyebab lain bisa dari mobil yang melaju sangat lamban di lajur kanan, meski di depannya kosong tidak ada mobil lain. Sehingga pengemudi yang tidak sabaran di belakang, menguntit dengan dekat seolah isyarat agar mempercepat laju.

Kebiasaan ini hampir tidak ditemui jika Anda pernah berkendara di Eropa. Karena perilaku ini sangat mengganggu dan menyebalkan. Pada umumnya, pengemudi yang dikuntit langsung memberi jalan.

Tailgating juga dilakukan dengan alasan agar lebih memperlancar arus kendaraan. Karena dengan “menyodok” secara halus mobil di depan, maka kecepatan bisa meningkatkan dan tidak menghambat. Ternyata perilaku ini tidak membantu sama sekali. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan, tailgating justru memperburuk suasana.

Dengan kata lain, tailgating menyebabkan kemacetan dan membuat arus lalu lintas bergerak lambat. Bahkan menjadi penyebab utama tabrakab beruntun. Karena setiap pengemudi memiliki insting mengenali sebuah tanda bahaya atau gangguan, walaupun sedang berkendara di jalan raya yang mulus dan lengang.

Gangguannya bisa bermacam-macam, seperti hewan menyeberang, ada lubang di jalan, dan paling sering mobil depan yang tiba-tiba mengerem. Jika terlalu dekat dengan mobil di depan, perlambatan kecepatan mendadak pasti terjadi yang berimbas ke semua kendaraan di belakang. Alhasil, arus kendaraan yang jauh di belakang bisa tersumbat dan berhenti.

Kondisi seperti ini sering kali Anda temui bila sedang berada di jalan tol yang ramai. Macet, padahal tidak terjadi insiden apapun.

Cara paling mudah untuk mengatasi hanya dengan menjaga jarak dari mobil depan. Peneliti MIT menyebutnya sebagai bilateral control. Jika diterapkan oleh seluruh pengemudi, niscaya tidak terjadi kemacetan. “Mengemudi seperti ini berdampak besar dalam mengurangi lama perjalanan dan konsumsi bahan bakar,” kata Berthold Horn, peneliti MIT.

“Penelitian kami menunjukkan, bila pengemudi menjaga jarak yang sama antarmobil, gangguan yang muncul dapat dihindari walau tetap berjalan di jalurnya, daripada mengerem yang menciptakan kemacetan,” tambah Horn.

Memberi peringatan mudah saja, tapi melaksanakannya cenderung sulit. Para peneliti menyarankan produsen mobil menambah sensor untuk mengukur jarak mobil depan dan belakang, lalu mengembangkan lagi fitur cruise control adaptif.

Untuk sementara, cobalah menjaga jarak kendaraan sewajar mungkin dengan mobil depan. Tapi kok sulit sekali ya diterapkan di lalu lintas Indonesia. Yang ada, ruang kosong untuk menjaga jarak malah diselak oleh mobil dari jalur sebelah. Kalau begini terus, jangan harap jalanan bisa lancar!**Red,dbs

Tinggalkan KOmentar

Masukkan Komentar anda
Masukkan nama anda