Jakarta , Traznews. Com GREENSHIP Awards 2025, ajang penghargaan bagi para pemangku kepentingan yang konsisten menerapkan prinsip green building di Indonesia, digelar pada Jumat (5/12/2025) di Grand Ballroom Sopo Del, Kuningan, Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Ar. Ariko Andikabina, M.Arch., IAI, GP selaku Director of Rating Digitalization and Training Development menjelaskan pentingnya pembaruan dalam penyelenggaraan pelatihan green building professional (GP).

“Mungkin ada hal-hal lain yang perlu pembaruan, di antaranya bagaimana kita menyelenggarakan pelatihan. Maka kami menyebutnya sebagai *training GP Plus*. Tujuannya apa, mungkin sudah disampaikan Bu Ira sebelumnya. Kita akan membicarakan Indonesia yang lebih hijau dan lebih berkelanjutan,” ujar Ariko.
Ia menuturkan bahwa kebutuhan utama saat ini adalah memperkuat sinergi dalam mewujudkan target penurunan emisi karbon nasional. Ariko menjelaskan bahwa Indonesia telah menetapkan Nationally Determined Contribution* (NDC) untuk menurunkan emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030, dan meningkat menjadi lebih dari 32 persen pada target *enhanced NDC. Namun, dalam perjalanannya, terdapat langkah-langkah penting yang harus diperkuat.
“Di second NDC, penurunan emisi karbon itu baru akan dilakukan setelah 2030. Apa yang perlu dilakukan? Pemerintah memandang bahwa hal mendasar yang diperlukan adalah membangun *capacity building* profesional yang punya visi, wawasan, dan keterampilan untuk menyelesaikan target penurunan emisi karbon itu. Ini yang menjadi hal penting,” jelasnya.
Menurut Ariko, penyesuaian pelatihan menjadi keharusan karena capacity building merupakan elemen krusial dalam dokumen NDC terbaru. “Indonesia itu sangat luas. Kita akan bicara capacity building dari Sabang sampai Merauke, dan ini tidak bisa dilakukan sendirian. Kita punya perangkat, kementerian PUPR juga punya perangkat, tapi justru dengan bekerja bersama-sama kita bisa membuat perubahan itu,” katanya.
Ia melanjutkan bahwa peningkatan kompetensi juga berkaitan dengan dukungan penyelenggaraan green building harmonization (BGH), percepatan penyusunan standar penyelenggaraan, serta penetapan target-target bangunan hijau.
Ariko menyoroti bahwa fokus pelatihan saat ini masih terlalu berat pada kategori new building, sementara mayoritas populasi bangunan di Indonesia justru merupakan bangunan eksisting.
“Selain new building, kita punya existing building, interior space, zero data center, transit station, hingga GSA. Kita punya banyak perangkat itu. Tapi pelatihan kita masih sangat terkonsentrasi pada *new building, sehingga kami merasa perlu ada pembaruan di sana,” tegasnya.
Ajang GREENSHIP Awards 2025 diharapkan menjadi momentum memperkuat ekosistem keberlanjutan melalui peningkatan kompetensi para profesional bangunan hijau di seluruh Indonesia.